Dalamreksadana, satuan yang paling penting dan juga harus diperhatikan oleh investor adalah NAB (nilai aktiva bersih)/UP (unit penyertaan). NAB/UP ini adalah harga wajar dari suatu portofolio reksadana setelah dikurangi dengan berbagai biaya operasional, selanjutnya dibagi dengan jumlah unit penyertaan yang sudah beredar (dimiliki investor).
NilaiNJOP juga mempengaruhi besaran Pajak atas Bumi dan Bangunan (PBB). Menilai harga properti berdasarkan harga NJOP bukan merupakan kesalahan, tetapi terkadang harga pasaran properti tersebut bisa berbeda dengan NJOP. Di kota besar, biasanya nilai NJOP hanya sekitar 25% - 50% dari nilai asli properti tersebut.
4 Penilaian Harga Wajar Saham Penilaian kewajaran harga saham menggunakan PER adalah apabila nilai PER dibawah 10 kali adalah murah. Namun PER yang tinggi atau lebih dari 10 kali bisa menunjukkan kalau perusahaan itu merupakan perusahaan yang diincar investor, sehingga harga sahamnya terus naik dan PER nya juga tinggi.
Untukmengetahui model reksadana, Anda dapat mencarinya di situs web pelacakan investasi keuangan seperti Morningstar yang menawarkan fakta-fakta dasar dan data kinerja reksadana, bersama dengan alat untuk membantu Anda mengevaluasi dana tersebut. Dalam kategorisasi reksadana, Anda dapat membandingkan satu reksadana dengan reksadana yang lainnya.
StrategiInvestasi di Prospektus Reksadana. Dari contoh diatas, hal - hal yang bisa diamati adalah: Tujuan Investasi: Saham. Makanya, harus minimum 80% investasi saham, tidak boleh kurang dari itu. Sisanya, bisa ditempatkan dalam instrumen pasar uang, seperti deposito atau SBI, namun maksimum 20%.
vyTB. Bagi mereka yang sudah berkecimpung di dunia investasi, tentu sudah tak asing lagi dengan istilah NAB reksadana. NAB itu sendiri merupakan singkatan dari Nilai Aktiva Bersih yang menjadi salah satu faktor penting dalam produk reksadana. Selain itu, nilai NAB dalam reksadana bisa dijadikan salah satu pertimbangan dalam menilai kinerja manajer investasi. Jadi, saat kamu ingin menanamkan modal di salah satu jenis reksadana kamu perlu melihat nilai NAB dari produk reksadana tersebut. Namun perlu diketahui kalau NAB bukan harga dari reksadana melainkan menunjukan berapa besar nilai aset yang dikelola dalam reksadana. Oleh karena itu, untuk memahami lebih lanjut mengenai NAB reksadana simak ulasan lengkap dari Qoala di bawah ini, termasuk cara menghitung. Apa Itu NAB Reksadana? Sumber foto KUMOHD Via Shutterstock Saat berinvestasi di reksa dana, kamu pasti sering mendengar istilah Nilai Aktiva Bersih NAB. NAB pada dasarnya adalah nilai aset suatu reksa dana dikurangi nilai kewajiban liability dibagi dengan jumlah unit reksa dana. Dengan kata lain, NAB adalah nilai bersih setiap unit reksa dana. Ketika kamu ingin membeli unit reksadana, harga yang harus dibayar untuk setiap unit adalah NAB. Jadi, kamu harus memiliki pemahaman yang baik tentang apa itu NAB. Sebelum membahas NAB lebih jauh, kamu perlu tahu dari mana skema reksa dana berasal. Awalnya, perusahaan aset manajemen meluncurkan penawaran dana baru atau yang disebut New Fund Offering NFO. Dana baru ini memiliki tujuan invest dalam instrumen tertentu – seperti ekuitas, utang, saham kapitalisasi besar atau kecil, saham sektoral – tergantung pada rencana investasi. Perusahaan aset manajemen lalu memasarkan dana tersebut, mengundang investor untuk berinvestasi. Kemudian, setelah perusahaan mengumpulkan dana dari para investor, dana tersebut digunakan untuk diinvestasikan sesuai dengan tujuan investasi. Lalu, bagaimana angka NAB muncul? Setelah dana yang dikumpulkan diinvestasikan ke dalam, katakanlah, saham, NAB skema reksa dana akan muncul. NAB adalah harga pasar saham pada skema reksa dana dikurangi biaya administrasi rasio pengeluaran. Karena harga saham mengalami perubahan setiap saat, NAB reksa juga ikut berubah. Kemudian, investor dapat mengukur keuntungan atau kerugian investasi dengan membandingkan NAB reksa dana saat ini dengan NAB awal ketika membeli unit reksa dana. Sebagai contoh, kamu berinvestasi pada sebuah unit reksa dana sebesar NAB. Kemudian dalam jangka waktu enam bulan, unit reksadanamu meningkat ke angka Rp. Ini berarti, reksadana milikmu mengalami peningkatan sebanyak 20 persen pada periode tersebut. Menurut UU Pasar Modal No. 8 Tahun 1995 Pasal 1 ayat 27, reksadana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal dan untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi. Dalam memahami cara kerja reksadana secara sederhana, investor membeli reksadana yang berisikan efek-efek di pasar modal. Uang investor tersebut lantas “dibelanjakan” ke sejumlah efek yang menjadi komposisi portofolio reksadana. Hasil kinerja reksadana secara harian atau NAB adalah patokan kamu buat mempertimbangkannya. Manajer investasi bakal menampilkan Nilai Aktiva Bersih ini di situs resmi mereka atau platform Agen Penjual Efek Reksa Dana APERD secara berkala. Setelah memahami soal NAB dalam reksa dana, kamu mungkin perlu disegarkan kembali soal berbagai jenis produk reksa dana yang tersedia di Indonesia. Berikut adalah jenis produk reksa dana dan karakteristiknya masing-masing. Reksa Dana Saham Manajer Investasi akan menempatkan investasi para investornya untuk pembelian saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia BEI. Keuntungan didapatkan pada saat terjadi kenaikan harga saham yang telah dibeli tersebut. Dibandingkan yang lainnya, reksa dana saham memiliki keuntungan return yang paling tinggi. Sekaligus juga resiko yang paling tinggi. Hal ini dikarenakan pasar saham merupakan instrumen investasi yang bergejolak. Saham bisa naik atau turun dengan tajam dalam periode singkat. Biasanya yang menanamkan modalnya pada investasi saham, adalah seorang investor yang berani mengambil resiko risk taker. Reksa Dana Campuran Sesuai dengan namanya, Manajer Investasi akan mengalokasikan dana investor pada berbagai macam efek. Di antaranya adalah saham ekuitas, surat utang obligasi dan pasar uang deposito. Jenis investasi ini sangat sesuai buat kamu yang baru saja hendak mencoba berinvestasi. Alokasi dana dikombinasikan pada ketiga jenis efek. Dimana masing-masing dialokasikan tidak boleh lebih dari 79%. Keunggulan investasi ini adalah resiko investasi yang tersebar, karena penganekaragaman diversifikasi instrumen aset. Pada saat salah satu instrumen mengalami penurunan, bisa jadi instrumen lainnya mengalami keuntungan dengan nilai lebih tinggi. Reksa Dana Pendapatan Tetap Ditinjau dari jenis resikonya, reksa dana pendapatan tetap merupakan investasi berisiko menengah. Investasi ini dapat memberikan tingkat pengembalian lebih tinggi dari bunga deposito pada umumnya. Dana investor diinvestasikan setidaknya 80% aset berupa surat utang obligasi. Tujuan dari reksa dana pendapatan tetap adalah untuk mendapatkan tingkat pengembalian yang lebih stabil. Dengan aset berupa obligasi, maka keuntungan bisa didapatkan secara rutin berupa kupon. Walaupun memiliki resiko lebih besar dari pasar uang, tetapi tingkat risiko relatif lebih rendah dibandingkan pasar saham. Investasi pendapatan tetap lebih cocok digunakan untuk jangka pendek menengah antara 1 hingga 3 tahun. Reksa Dana Pasar Uang Jika dibandingkan dengan yang lain, ini adalah jenis investasi dengan resiko paling kecil. Sehingga bisa dianggap investasi paling aman. Keuntungan diperoleh dengan penempatan dana pada instrumen pasar uang yang telah dipilih secara selektif. Pasar uang memiliki likuiditas tinggi, sehingga dapat memenuhi kebutuhan akan dana tunai dalam waktu singkat. Investasi jenis pasar uang merupakan investasi jangka pendek paling aman dan menguntungkan. Namun demikian, reksa dana pasar uang kurang menguntungkan untuk investasi jangka panjang, seperti 5 tahun ke atas. Cara kerja NAB reksadana cukup mudah sebenarnya. Investor hanya perlu melihat unit penjualan setiap produk reksadana dan NAB. Biasanya, produk reksadana dijual berbentuk satuan unit. Investor kemudian akan membeli produk reksadana per unit dari NAB. Misalnya, modal yang ditanamkan sebesar dan harga NAB reksadana campuran di sebuah manajer investasi sebesar Maka, unit yang dari dimiliki produk reksadana itu adalah sekitar 428,57 unit. Sesuai dengan rumusnya, cara kerja ini dinamakan NAB/UP. Jadi, kalau ingin mengetahui berapa unit yang akan dimiliki, kamu hanya perlu melihat namanya, tidak lagi harus menghafal rumusnya. Untuk memahami NAB/UP, perlu dipahami pengertian dari setiap istilah secara terpisah. Singkatnya, NAB adalah harga dari produk reksadana yang sudah bersih dan UP atau unit penyertaan merupakan jumlah unit atau produk yang dimiliki investor. Maka, NAB/UP adalah harga wajar dari sebuah portofolio reksadana yang sudah bersih dibagi jumlah UP yang dimiliki investor saat itu. Perlu kamu ketahui, setiap harinya NAB/UP ini akan berubah nilainya sesuai dengan kondisi transaksi para investor. Peran NAB Reksadana Tak sedikit investor melihat kinerja reksadana dari NAB/UP, padahal peranan NAB/UP dalam reksadana tidak bisa dijadikan acuan penilaian bagus atau tidaknya reksadana tersebut. Oleh karena itu, sebagai investor kamu perlu mengetahui bahwa kinerja reksadana dapat dilihat dari riwayat keuntungan yang dihasilkan. Pada dasarnya, NAB/UP tidak mempengaruhi pilihan investasi reksadana soalnya NAB/UP hanya memberitahukan bagaimana aset dasar dihitung. Jadi, dalam memilih jenis reksadana nilai NAB/UP yang rendah tidak menjadikan dana investasi yang lebih baik atau sebaliknya. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa dalam memilih investasi reksadana kamu harus mengenali masing-masing jenis reksadana agar kamu dapat mengetahui potensi imbal hasil serta resiko yang harus kamu tanggung. Selain itu kamu juga harus memilih instrumen reksadana yang sesuai dengan profil risiko kamu. Cara Menghitung NAB Reksadana Berdasarkan peraturan Otoritas Jasa keuangan OJK, pada hari pertama penawaran umum initial public offering/IPO sebuah reksadana, NAB/UP ditetapkan — ini sesuai regulasi yang berlaku. Selanjutnya, perhitungan NAB/UP akan berubah sesuai dengan pergerakan nilainya di pasar instrumen investasi. Secara sederhana, cara menghitung NAB reksadana dengan menjumlahkan total aktiva bersih keseluruhan dana Asset Under Management/AUM dalam reksadana kemudian dibagi dengan jumlah total unit yang beredar. Total aktiva bersih sendiri berasal dari nilai pasar setiap jenis aset investasi seperti saham, obligasi, surat berharga pasar uang, serta deposito; ditambah dividen saham dan kupon obligasi, kemudian dikurangi biaya operasional reksadana seperti biaya MI, biaya bank kustodian, dan lain-lain. Oleh karena itu, disebut dengan aktiva bersih’ dan menyebabkan pergerakan NAB/UP reksadana mengalami perubahan setiap harinya akibat pergerakan pasar instrumen investasi yang menjadi portofolio reksadana. Lalu, bagaimana dengan perhitungan NAB/UP terhadap investasi reksadana yang kita lakukan? Untuk memahami cara menghitung NAB terhadap investasi reksadana tersebut, mari kita ilustrasikan pada contoh berikut ini. Misalnya kita ingin berinvestasi pada reksadana di marketplace investasi Bareksa yang saat ini fee biaya pembelian dan penjualan reksadana dikenakan sebesar 0 persen alias tidak ada biaya transaksi. Sebagai contoh kita memilih reksadana perusahaan X, salah satu produk reksadana saham kelolaan perusahaan tersebut kini berganti nama menjadi perusahaan Y untuk menanamkan modal Rp 5 juta dengan NAB per unit per tanggal 24 Juli 2022. Jumlah unit penyertaan reksadana yang akan kita miliki ditetapkan setelah dana Rp 5 juta tersebut dikurangi fee biaya yang ditetapkan oleh manajer investasi, lalu dibagi dengan NAB per unit reksadana. Dengan fee reksadana perusahaan Y yang sebesar 0 persen, maka nilai investasi bersih kita adalah Rp5 juta. sehingga kita dapat memiliki unit penyertaan reksadana sebanyak Rp 5 juta dibagi yakni 3136,25 unit penyertaan reksadana. Selanjutnya, sebulan kemudian, katakanlah misalnya NAB reksadana perusahaan Y naik menjadi per unit. Alhasil, dana investasi kita telah bertumbuh 25,5 persen. Jika kita ingin menjualnya di harga maka kita akan mendapatkan dana sebesar harga NAB per Unit tersebut dikalikan dengan jumlah unit penyertaan milikmu, yakni 3136,25, menjadi senilai Akan tetapi, hasil tersebut masih harus dikurangi lagi dengan fee penjualan jika diberlakukan. Jadi, jika biaya penjualan reksadana perusahaan Y sebesar 0 persen, maka nilai bersih hasil penjualan reksadana milikmu sekitar Dalam hal ini, besar kecilnya NAB reksadana tidak menunjukkan murah atau mahalnya reksadana melainkan hanya menjadi acuan harga ketika kita ingin membeli dan menjual reksadana. Tingginya NAB suatu reksadana disebabkan aset-aset dalam portofolio reksadana tersebut telah mengalami kenaikan. Sehingga pada umumnya, NAB reksadana yang baru melakukan penawaran umum lebih kecil dibandingkan dengan NAB reksadana yang sudah lebih lama terbit. Reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal investor. Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito. Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka. Cara Menghitung Keuntungan atau Kerugian NAB Reksadana Kamu bisa menghitung keuntungan maupun kerugian investasimu dengan melihat pertumbuhan NAB kamu. Sebagai contoh, kamu membeli produk reksa dana C pada tanggal 5 Oktober 2020 dengan dana sebesar dengan harga NAB/UP dan tidak ada biaya pembelian subscription fee. Artinya, pada saat itu, kamu mendapat unit reksa dana C. Pada 10 Januari 2021, kamu berencana untuk menjual reksa dana C. Saat itu, NAB/UP dari reksa dana C dan unit reksa dana C yang kamu miliki sebanyak unit. Biaya penjualan dari reksa dana kamu redemption fee 0%. Maka, hasil penjualan reksa danamu dapat kita hitung sebagai berikut. Rumus Menghitung Penjualan Reksa Dana Jumlah Unit x NAB/ Unit – Biaya Penjualan Nilai Investasimu 10 Januari 2021 = X = Biaya Penjualan = 0% x = Rp0,- Jadi total nilai investasimu 10 Januari 2021 = – Rp0 = juta Jika kamu ingin mengetahui berapa keuntungan dari investasi kamu, maka Keuntungan investasi = Nilai Investasi Terakhir – Modal Investasi – = Berdasarkan hasil perhitungan di atas, nilai aktiva bersih reksa dana C yang kamu miliki sudah mengalami pertumbuhan sebesar 10% sejak tanggal 5 Oktober 2020. Faktor yang Mempengaruhi NAB Reksadana Sumber foto LookerStudio Via Shutterstock Ada beberapa faktor yang mempengaruhi besar kecilnya harga NAB/UP dalam investasi reksadana. Apa saja? Berikut di antaranya Peningkatan dana kelolaan Jumlah dana kelolaan diperoleh dari dana yang ditanamkan oleh para investor. Jadi, jika jumlah dana kelolaan semakin besar maka akan mempengaruhi nilai NAB/UP. Dengan begitu disimpulkan semakin besar dana kelolaan maka semakin tinggi pula harga NAB/UP di produk reksadana tersebut. Dana kelolaan itu sendiri didapatkan dari banyaknya investor yang menanamkan modal. Perubahan Nilai Pasar Wajar NPW Seperti yang dilansir dari situs Otoritas Jasa Keuangan OJK perubahan dana kelolaan juga dipengaruhi oleh Nilai Pasar Wajar NPW. NPW adalah nilai yang diperoleh dari transaksi efek yang dilakukan oleh pihak secara bebas tanpa paksaan atau likuiditas. Umumnya NPW diatur oleh Lembaga Penilaian Harga Efek LPHE. LPHE merupakan perusahaan yang sudah mendapatkan izin usaha dari BAPEPAM dan LK yang bertugas untuk melakukan penilaian terhadap harga efek. Sementara itu LPHE menentukan harga pasar wajar berdasarkan nilai transaksi dari produk investasi. Karena itu, NPW mengalami perubahan setiap harinya. Suku bunga Bank Indonesia Faktor lainnya yang mempengaruhi NAB reksadana adalah suku bunga Bank Indonesia, suku bunga Bank Indonesia atau BI rate adalah suku bunga yang mencerminkan kebijakan moneter yang diterbitkan oleh Bank Indonesia dan diumumkan kepada publik. Oleh karena itu, apabila suku bunga Bank Indonesia dinaikan maka investor akan memilih menarik dananya untuk mengalihkan ke instrumen investasi yang memberikan keuntungan lebih. Hal tersebut membuat NAB reksadana mengalami fluktuatif harga, dan keuntungan yang diberikan mengalami penurunan. Investasi reksadana memang terkesan cukup sulit bagi para investor pemula. Banyak istilah yang tidak dimengerti, terutama ketika mulai memilih manajemen investasi dan membangun portofolio. Istilah NAB atau NAB/UP bermunculan banyak dan membuat kamu bertanya-tanya. Namun, setelah memahami pengertian, peran, faktor penyebab, bahkan sampai cara menghitung NAB reksadana, investasi menjadi lebih mudah dan lebih asik. Dengan begitu, kamu dapat lebih cepat memilih produk reksadana terbaik yang diinginkan beserta dengan manajemen investasi yang paling cocok untukmu. Selain itu, penting juga untuk kamu memiliki asuransi sebagai bentuk investasi masa depan. Sebab, asuransi juga bisa membantumu untuk mengatur keuangan dan terhindar dari hal-hal yang tak diinginkan. Agar mudah dan bisa memilih sesuai dengan kebutuhan, kamu bisa cari tahu lebih lanjut terkait melalui Qoala Apps ataupun Blog Qoala.
Reksadana telah menjadi cara investasi yang marak dicari oleh pemula. Hal ini terjadi akibat reksadana memiliki tingkat risiko yang cukup rendah. Bagi pemula yang belum memahami sistematika atau cara kerja reksadana, risiko yang rendah akan menjadi sebuah keuntungan baginya. Namun, reksadana memiliki istilah-istilah yang mungkin akan membuat para investor pemula bertanya-tanya. Agar tidak mundur dari permainan, perlu diketahui dan dipahami istilah-istilah tersebut. Istilah termudah dan mungkin yang pertama akan dijumpai adalah Nilai Aktiva Bersih NAB. Untuk memahami istilah NAB, yuk simak penjelasan berikut ini. Baca juga Bunga Reksadana – Besaran, Cara Hitung, dan Daftar Reksadana Bunga Tertinggi Pengertian NAB Reksadana NAB Reksadana Nilai Aktiva Bersih atau yang sering disingkat sebagai NAB adalah nilai total investasi dalam setiap produk investasi reksadana. Setiap harinya, investor akan mengetahui total kekayaan bersih sebuah reksadana yang digambarkan oleh NAB. Total kekayaan bersih ini merupakan jumlah dana yang dikelola oleh MI atau manajer investasi produk reksadana dan kemudian dihitung setiap harinya berdasarkan hari perdagangan bursa. NAB adalah harga bersih dari dana yang dikelola setelah dikurangi biaya operasional. Nantinya, NAB dipublikasikan ke media-media agar diketahui oleh khalayak umum. Jadi, masyarakat yang belum atau ingin memulai reksadana juga dapat mengetahui segelintir dari kondisi pasar reksadana. Cara Kerja NAB Reksadana dan Perhitungannya dalam Investasi Cara menghitung NAB Reksadana pada dasarnya tidak sulit. Angka NAB didapatkan dengan cara menjumlahkan total aktiva bersih dari keseluruhan dana dari reksadana yang kemudian dibagi dengan total unit yang ada di pasar. Mungkin untuk pemula akan bertanya, “Apa itu total aktiva bersih?”. Nah, total aktiva bersih merupakan nilai bersih yang diambil dari nilai pasar produk investasi tertentu dalam reksadana, yang meliputi deposito, saham, obligasi, dan surat berharga pasar uang. NAB adalah nilai yang sudah bersih dari biaya operasional. Biaya manajer investasi dan biaya bank kustodian merupakan beberapa bentuk dari biaya operasional. Maka, saat kamu berinvestasi reksadana, tidak lagi memikirkan biaya operasional, apalagi pada saat melihat angka NAB/unit. Investasi reksadana lebih menjadi nyaman, deh. Biasanya, produk reksadana dijual berbentuk satuan unit. Investor kemudian akan membeli produk reksadana per unit dari NAB. Hal ini membuat NAB-nya pun dihitung per unit yang juga. Alhasil, muncul istilah NAB/unit. Sehingga sebagai investor, kamu hanya perlu melihat unit penjualan setiap produk reksadana dan berapa perubahan nilai NAB-nya. Rumus Menghitung Jumlah Unit Reksadana Jumlah Unit Reksadana Jumlah Dana Investasi NAB/unit Sebagai contoh, harga jual reksadana CRMT adalah pada tanggal 1 Oktober 2022. Kamu menginvestasikan dana senilai untuk membeli reksadana tersebut di hari yang sama. Setelah pembelian selesai dilakukan kamu akan mendapatkan unit reksadana CRMT. Jumlah Unit Reksadana CRMT yang Kamu Miliki Jumlah Dana Investasi NAB/unit reksadana CRMT = unit Kesimpulannya, per tanggal 1 Oktober 2022, kamu memiliki nilai investasi reksadana CRMT sebesar unit reksadana dengan nilai NAB sebesar Perlu kamu ketahui, setiap harinya nilai NAB/unit ini akan berubah nilainya sesuai dengan kondisi transaksi para investor. Cara Menghitung Keuntungan NAB Reksadana Menghitung NAB Setelah memahami cara menghitung jumlah unit reksadana, berikut pembahasan bagaimana cara hitung keuntungannya nih. Dalam investasi reksadana, keuntungan dapat dihitung berdasarkan selisih kenaikan NAB saat penjualan dan NAB saat pembelian. Kamu akan mendapatkan keuntungan ketika NAB penjualan lebih besar daripada NAB pembelian. Hal ini juga berlaku pada setiap satuan unit reksadana NAB/unit yang termasuk dalam transaksi jual beli yang dilakukan. Berikut contoh perhitungannya Kita ambil lagi contoh di atas, per tanggal 1 Oktober 2022, kamu memiliki nilai investasi reksadana CRMT sebesar unit reksadana dengan nilai NAB sebesar Pada tanggal 1 Januari 2023, kamu memutuskan untuk menjual seluruh unit reksadana tersebut dengan harapan mendapatkan keuntungan. Pada tanggal 1 Januari 2023, NAB/unit dari reksadana CRMT adalah berapa keuntungan yang didapat? Keuntungan Reksadana CRMT Total Nilai Investasi Sekarang NAB/unit Reksadana CRMT x Jumlah Unit Reksadana CRMT - Total Modal Investasi x unit - - Sehingga, jika kamu melakukan penjualan di tanggal 1 Januari 2023, Kamu akan mendapatkan keuntungan sebesar 2%. Dalam contoh di atas, terjadi kenaikan pada NAB/unit dari reksadana CRMT, maka sebagi investor kamu juga akan mendapatkan keuntungan karena NAB/unit dari reksadana CRMT pada tanggal 1 Januari 2023 saat penjualan lebih besar dari tanggal 1 Oktober 2022 saat pembelian. Perlu diingat, NAB/unit ini juga bisa mengalami penurunan. Sehingga jika nilai NAB/unit menurun saat penjualan dilakukan, tentunya kamu juga akan mengalami kerugian. Maka dari itu, jangan lupa untuk menggunakan strategi investasi yang tepat dan memilih reksadana sesuai dengan portofolio serta tujuan investasi kamu ya. Bingung cari investasi Reksa Dana yang aman dan menguntungkan? Cermati solusinya! Mulai Berinvestasi Sekarang! Peran NAB Reksadana NAB Reksadana Nah, sebelum memulai investasi, kamu perlu paham peran yang dimainkan oleh NAB reksadana. Umumnya, para investor akan melihat kemampuan kerja atau hasil reksadana melalui NAB/unit setiap produk reksadana. Namun, peran NAB/unit tidak bisa dijadikan sebuah patokan menilai suatu produk reksadana. Cara yang dapat membantu kamu dalam berinvestasi adalah mengetahui kinerja reksadana melalui riwayat keuntungan dari setiap produk reksadana. Lalu, kenapa NAB/Unit tidak bisa dijadikan acuan? NAB/unit hanya menunjukkan perhitungan aset dasar. Maka, secara umum tidak akan memengaruhi pilihan investasi reksadana kamu. Justru yang memengaruhi adalah produk reksadana yang dipilih. Namun, bukan berarti NAB/unit tidak baik, ya. Dengan adanya NAB/unit, kamu bisa mengetahui berapa besar unit reksadana yang bisa dimiliki dengan menanamkan sejumlah modal. Peran yang dimainkan NAB/unit adalah memberikan kisaran unit produk reksadana yang dimiliki dengan harga tertentu. Nantinya, ini bisa dijadikan referensi untuk memiliki produk reksadana. Bisa jadi, unit yang dimiliki sedikit, tapi keuntungan yang diraih besar, lho! Faktor yang Memengaruhi NAB Reksadana 1. Peningkatan Dana Kelolaan Dana yang ditanamkan oleh investor akan membuahkan jumlah dana kelolaan tertentu. Dana kelolaan ini didapatkan dari banyaknya investor yang menanamkan modal. Makin banyak investor, makin besar pula jumlah dana kelolaannya. Lalu, jumlah dana kelolaan ini akan berpengaruh pada nilai NAB/UP. Jika jumlah dana kelolaan besar, maka harga NAB/UP di suatu produk reksadana juga menjadi tinggi. Begitu pula sebaliknya, bila jumlah dana kelolaan kecil, harga NAB/UP dari produk reksadana akan menjadi rendah. Jika diperhatikan, semua unsur ini sangat berkaitan dan memengaruhi satu sama lain. Jumlah investor akan memengaruhi jumlah dana kelolaan yang kemudian akan memengaruhi harga NAB/UP. Jadi, NAB/UP secara tidak langsung dipengaruhi oleh banyaknya investor pula. 2. Perubahan Nilai Pasar Wajar NPW Berkaitan dengan faktor di atas, jumlah dana kelolaan yang berubah juga dapat dipengaruhi oleh Nilai Pasar Wajar NPW. Singkatnya, NPW merupakan nilai yang didapat dari transaksi saham atau efek yang dilakukan oleh pihak secara bebas dan tanpa paksaan. NPW ini akan diatur oleh perusahaan yang bertugas untuk melakukan penilaian harga efek bernama Lembaga Penilaian Harga Efek LPHE. Karena tugasnya adalah untuk menilai harga efek, LPHE dapat menentukan harga pasar wajar berdasarkan hasil pantauannya terhadap nilai transaksi dari produk-produk investasi. Nilai transaksi dari sebuah produk investasi tentunya akan berubah setiap harinya. Hal ini menyebabkan perubahan NPW yang fluktuatif setiap hari pula. Dengan begitu, jumlah dana kelolaan juga akan berombak dan pada akhirnya akan berpengaruh pada harga NAB/UP. 3. Suku Bunga Bank Indonesia BI Suku Bunga Bank Indonesia BI merupakan suku bunga yang menggambarkan kebijakan moneter yang diterbitkan BI dan diumumkan pada publik. Dengan kata lain, suku bunga BI ini dapat menggambarkan perekonomian negara. Suku bunga ini akan memengaruhi perilaku para investor. Jika suku bunga BI sedang dinaikkan, terdapat kemungkinan investor akan cenderung menarik dananya dari sebuah aset dan memindahkannya ke produk investasi yang bisa memberikan profit berlebih. Maka, jika suku bunga BI yang dinaikkan berpengaruh pada NPW, terdapat kemungkinan investor akan menjual produk-produk investasi yang dimilikinya. Jika jumlah investor berkurang, jumlah dana kelolaan pun akan berkurang dan NAB akan sangat berpengaruh. Alhasil, NAB/UP menjadi fluktuatif dan keuntungan yang didapat pun akan berkurang. Baca juga Mahar Pernikahan Pakai Reksadana? Ini Keuntungannya! Nikmati Keuntungan yang Berlimpah dengan Memahami NAB Reksadana! Investasi reksadana memang terkesan rumit bagi para investor pemula. Banyak istilah yang tidak dimengerti, terutama ketika mulai memilih manajemen investasi dan membangun portofolio. Istilah NAB atau NAB/UP bermunculan banyak dan membuat kamu bertanya-tanya. Namun, setelah memahami pengertian, peran, faktor penyebab, bahkan sampai cara menghitung NAB reksadana, investasi menjadi lebih mudah dan lebih asik. Dengan begitu, kamu dapat lebih cepat memilih produk reksadana yang diinginkan beserta dengan manajemen investasi yang paling cocok untukmu.
Biasanya ketika akan membeli produk investasi reksadana, kita dilema dengan harga. Investor akan cenderung lebih memilih atau memutuskan untuk memilih reksadana yang murah dan menghindari harga yang mahal. Karena bagi orang yang awam murah dan mahal menjadi salah satu indikator dalam memilih reksadana. persepsinya harga yang rendah itu dianggap murah dan harga yang tinggi dianggap mahal. Keterbatasan ilmu atau kurangnya literasi yang menyebabkan investor awal tidak mengetahui cara penilaian harga wajar. Berinvestasi reksadana berbeda dengan saham. Jika kita berinvestasi saham maka uang yang harus kita keluarkan tergantung dari harga dan juga jumlah lot 1 lot = 100 lembar. Semakin banyak lot yang kita beli maka akan semakin besar. Misalkan saja jika kamu membeli 1 lot saham ABCD dengan harga pasar sebesar Rp. Maka uang yang dikeluarkan adalah sebesar Rp. x 100 = Rp. Kemudian membeli 1 lot saham VWXY pada harga pasar sebesar Rp. Maka uang yang harus dikeluarkan adalah sebesar Rp. x 100 = Rp. Jika dilihat dari harga saja maka kita akan mengatakan saham VWXY lebih mahal dibandingkan dengan saham ABCD. Namun dalam menilai murah dan mahalnya suatu saham bukan hanya melihat harga pasar melainkan ada beberapa penilaian lainnya. Misalkan menggunakan beberapa rasio pasar contohnya Price Book Value, Price Earning Rasio dan juga Discounted Cash Flow. Dengan metode tersebut maka investor akan mengetahui apakah harganya mahal atau murah. Lalu bagaimana dengan reksadana? Sebelumnya kita harus memahami harga reksadana itu terbentuk dari Nilai Aktiva Bersih/ Unit penyertaan. Ada reksadana yang memiliki NAB/Up yang kecil dalam ribuan dan ada juga yang memiliki NAB/UP besar puluhan ribu rupiah. Lalu apakah reksadana dengan NAB/UP yang kecil berarti murah? Apakah dengan NAB/ UP yang rendah akan memberikan keuntungan yang tinggi dibandingkan dengan NAB/Up yang lebih besar? Nah Nilai Aktiva Bersih/ Unit Penyertaan ini didapat dari pembagian dari Nilai Aset Bersih dengan jumlah unit yang dimiliki oleh investor. NAB/UP pertama kali penawaran umum adalah sebesar Rp. dan kemudian hari bisa nik dan turun seiring berjalannya waktu. Bisa saja karena pertambahan nilai asset dari kenaikan investasi dan juga bisa berkurang karena penurunan jumlah asset yang diinvestasikan. Maka jika ada reksadana dengan harga puluhan ribu dan ribuan saja, kita tidak perlu bingung. Karena membeli reksadana berbeda dengan membeli saham. Ketika mengeluarkan uang untuk membeli saham itu bergantung pada jumlah lembar yang dibeli tetapi reksadana itu bergantung nominal investasinya. Misalkan saja Reksadana Corfina Saham Syariah memiliki harga Rp. sedangkan Reksadana Grow-2 Prosper Rp. Ketika membeli reksadana tidak bergantung pada harganya melainkan unit yang didapatkan. Karena minimum pembelian reksadana sebesar Rp. Jika membeli Reksadana Corfina Saham Syariah akan mendapatkan unit sebesar Rp. Rp. = 83,3333 unit. Sedangkan unit yang didapat jika membeli Reksadana Grow-2 Prosper adalah sebesar Rp. Rp. = 43,4782 unit. Jika orang awam akan menganggap pembelian Reksadana Corfina Saham Syariah lebih murah dan lebih menguntungkan dibandingkan dengan Reksadana Grow-2 Prosper. Karena melihat jumlah unit yang didapat di Reksadana Corfina Saham Syariah lebih banyak. Padahal Hal ini sebenarnya tidak ada hubungannya, karena nilai pasar investasi adalah perkalian antara jumlah unit dengan harga pasar. Sehingga meski jumlah unit reksadananya lebih banyak, akan tetapi jika harga reksa dananya lebih kecil maka sama saja dengan jumlah unit reksadana sedikit namun dengan harga yang lebih tinggi. Mislakan saja kedua reksadana itu naik sebesar 2%, dimana Reksadana Corfina Saham Syariah menjadi Rp. dan Reksadana Grow-2 Prosper menjadi Rp. Jika dikalikan dengan unit reksadana yang dimiliki maka hasilnya sama- sama sebesar Rp. Penilaian Murah dan Mahal Reksadana Reksadana tidak bisa dihitung harga wajarnya sebab pengelolaan reksadana sangat dinamis. Karena reksadana ini dikelola oleh manajer investasi yang disesuaikan dengan strategi investasi yang telah tertuang dalam prospektus. Sehingga untuk menentukan murah dan mahalnya reksdana bukan dari harga. Ada baiknya kita melihat kinerja dari beberap reksadana yang sejenis dengan benchmark tolak ukur. Jika kinerja diatas benchmarknya maka bisa dikatakan bisa memberikan imbal haisl yang bagus. Untuk jenis reksadana saham maka indeks tolak ukurnya menggunakan IHSG. Reksadana pendapatan tetap maka benchmarknya adalah indeks obligasi, sedangkan reksadana campuran dibandingkan dengan IHSG dan indeks obligasi. Terakhir, reksadana pasar uang benchmarknya indeks pasar uang. Hal yang terpenting dalam berinvestasi reksadana adalah performa dari produk reksadana yang lebih tinggi dari bechmarknya. Jika di bawah dari benchmarknya maka disebut underperform. mIsalanya dalam 1 bulan IHSG mampu mencatatkan kenaikan sebesar 4% namun reksadana saham hanya mencatatkan kenaikan sebesar maka reksadana tersebut underperform.
Ilustrasi investor pria pemuda sedang memegang handphone smartphone gadget mengecek portofolio keuntungan dari hasil investasi reksadana saham obligasi surat berharga negara secara online dengan transaksi pembayaran - Apa yang kita pertimbangkan ketika memilih produk reksadana untuk investasi? Jawaban yang sering muncul adalah kinerja historis, alias pergerakan reksadana dan kaitannya dalam memberikan keuntungan di masa lampau. Karena itu, sebelum memilih berinvestasi di reksadana sebaiknya investor melakukan penilaian terhadap kinerja yang ingin dimilikinya. Dalam memilih produk reksadana, investor perlu mempertimbangkan tujuan investasi dan horizon jangka waktu dari tujuan tersebut. Terkait dengan hal itu, maka dasar pemilihan reksadana tidak melulu kinerja atau return reksadana sebagai indikator yang paling banyak digunakan secara umum. Dengan demikian, memilih reksadana harus hati-hati. Sebab, kalau seleksi hanya berdasarkan kinerja historis saja tanpa melihat pergerakan naik-turun fluktuasi lebih jauh dari reksadana yang bersangkutan, justru bisa mendorong pemilihan produk yang kurang sesuai dengan profil risikonya. Berikut beberapa cara untuk menganalisis kinerja reksadana dengan benar 1. Bandingkan reksadana dengan benchmark yang tepat Informasi pertama yang perlu dianalisis terkait kinerja reksadana ialah return dibandingkan dengan tolok ukur yang sesuai. Misalnya, jika Anda ingin melihat seberapa baik kinerja reksadana Anda, yang terbaik adalah membandingkannya dengan pengembalian rata-rata dari jenis reksadana yang sama. Perhatikan bahwa salah satu reksadana Anda mengalami penurunan nilai yang besar tetapi reksadana yang lain kinerjanya baik dalam jangka waktu tertentu, ini bukan indikasi bahwa reksadana yang sedang menurun harus dibuang dari portofolio Anda. Lihatlah jenis dan kategori reksadana yang sama terlebih dahulu untuk memahami apakah reksadana dalam kategori tersebut memiliki kinerja yang serupa. Anda juga dapat menggunakan indeks untuk benchmark. Sebagai contoh, jika reksadana tersebut banyak dialokasikan ke dalam saham, patokan yang baik adalah Indeks Harga Saham Gabungan IHSG. Jika IHSG turun 10 persen selama periode tertentu, namun reksadana Anda “hanya” turun 8 persen, hal tersebut seharusnya tidak perlu membuat Anda khawatir dengan kinerja reksadana Anda, karena secara umum kinerja pasar saham sedang kurang baik. 2. Ketahui kapan kinerja reksadana bagus bisa menjadi buruk Jika Anda berinvestasi dalam reksadana, terutama reksadana saham, kemungkinan Anda berencana untuk menahannya setidaknya selama tiga tahun atau lebih. Namun, bukan berarti return jangka pendek, katakanlah 1 tahun, tidak relevan. Bahkan return 1 tahun untuk reksadana yang sangat tinggi dibandingkan dengan dana lain dalam kategorinya dapat menjadi sinyal peringatan. Ya, kinerja yang kuat bisa menjadi indikator negatif. Ada beberapa alasan, salah satu alasannya adalah bahwa return yang luar biasa tinggi bersifat abnormal. Alasan lain untuk tetap menghindar dari kinerja jangka pendek yang tinggi adalah karena hal ini akan menarik investor untuk berinvestasi di reksadana tersebut. Jumlah uang yang lebih kecil akan lebih mudah dikelola dibandingkan dengan jumlah yang lebih besar. Lebih banyak investor berarti lebih banyak uang. Reksadana yang memiliki kinerja di tahun tertentu yang hebat bukan berarti akan memiliki kinerja yang sama di tahun selanjutnya. Bahkan, peningkatan dana kelolaan yang besar bisa sangat merusak prospek reksadana untuk kinerja masa depan. Inilah sebabnya mengapa manajer investasi yang baik menutup dana untuk investor. 3. Fokus pada periode 5 dan 10 tahun untuk kinerja reksadana Sebagai contoh, mungkin seorang fund manager memiliki filosofi investasi konservatif yang mengarah pada kinerja relatif lebih tinggi selama kondisi ekonomi yang buruk, tetapi kinerja relatif lebih rendah dalam kondisi ekonomi yang baik. Kinerja reksadana bisa terlihat kuat atau lemah sekarang, tetapi apa yang mungkin terjadi dalam 2 atau 3 tahun ke depan? Mempertimbangkan fakta bahwa kondisi pasar terus berubah, kita dapat menilai reksadana dari setiap perubahan arah pasar. Kemudian biasanya setiap fund manager memiliki gaya dan strategi masing-masing, namun dalam meracik investasinya harus sesuai dengan ketentuan yang ada dalam prospektus. Misalnya, sebagian besar siklus ekonomi siklus yang terdiri dari periode resesi dan pertumbuhan adalah 5 hingga 7 tahun. Juga, selama periode 5-7 tahun, paling tidak ada satu tahun di mana ekonomi lemah atau dalam resesi dan pasar saham merespons secara negatif. Kemudian selama periode 5 sampai 7 tahun yang sama kemungkinan ada setidaknya 4 atau 5 tahun di mana ekonomi dan pasar positif. Jika Anda menganalisis reksadana dan tingkat pengembalian 5 tahun lebih tinggi dari sebagian besar reksadana sejenis, maka reksadana tersebut bisa Anda koleksi. Reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal investor. Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito. Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka. KA01/AM *** Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK? - Daftar jadi nasabah, klik tautan ini - Beli reksadana, klik tautan ini - Pilih reksadana, klik tautan ini - Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS DISCLAIMER Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.
Ilustrasi seorang investor sedang memantau dan menghitung kinerja investasinya di reksadana, SBN dan emas. shutterstock - Evaluasi kinerja investasi perlu dilakukan oleh seorang investor. Tujuannya tak lain untuk mengetahui sudah sejauh mana target dan tujuan investasi hendak dicapai. Misalnya, jika kita rutin berinvestasi setiap bulan di sebuah produk investasi yang diasumsikan mampu tumbuh 10 persen per tahun, selama 4 tahun ke depan. Tentu langkah tersebut sudah menghitung berapa target dana yang hendak Anda memastikan asumsi hitungan tujuan keuangan yang sudah dipatok terpenuhi, makanya Anda perlu rutin mengecek kinerja investasi tersebut. Umumnya, seseorang perlu mengevaluasi kinerja investasi yang dia miliki minimal setiap akhir tahun atau setiap bagaimana melakukan evaluasi investasi? Berikut empat langkah melakukan evaluasi investasi 1. CekKetika pertama kali berinvestasi di sebuah instrumen investasi, jangan lupa untuk mencatat dan mengingat harga beli ketika itu. Misalnya, Anda berinvestasi rutin di reksadana saham A, catatlah berapa harga unit penyertaan dan nilai aktiva bersih reksadana tersebut ketika pertama kali Anda membeli initial subscription.Tujuannya tak lain, dengan mengetahui harga sebuah instrumen investasi ketika pertama kali membelinya, Anda bisa menghitung berapa pertumbuhannya atau penurunannya selama setahun belakang. Tapi bagaimana bila Anda lupa tidak mencatat harga pertama pembelian? Anda berinvestasi di reksadana, manajer investasi akan mengirimkan kinerja dana Anda secara rutin atau Anda bisa memintanya kepada manajer BandingkanSetiap instrumen investasi pasti memiliki acuan untuk mengukur pertumbuhan harga. Misalnya, Anda berinvestasi di saham atau reksadana saham, maka acuan atau benchmark yang bisa Anda bandingkan adalah Indeks Harga Saham Gabungan IHSG.Selain itu, Anda juga memanfaatkan indeks acuan yang dirilis oleh beberapa institusi. Hal yang sama juga dapat Anda lakukan pada kinerja EvaluasiAda baiknya sebelum berinvestasi ke sebuah instrumen, Anda sudah memiliki tujuan keuangan yang hendak dicapai. Sebagai contoh, kebutuhan dana pensiun atau dana pendidikan anak yang hendak Anda gunakan enam tahun lagi adalah Rp100 bisa mencapai target dana tersebut, Anda perlu berinvestasi di sebuah instrumen investasi yang mampu tumbuh minimal 15 persen per tahun selama enam tahun Rp850 ribu per saat melakukan evaluasi rutin seperti di akhir tahun, terungkap bahwa kinerja instrumen investasi yang Anda gunakan untuk meraih tujuan keuangan tersebut hanya 10 persen per tahun. Ada selisih cukup besar dari asumsi pertumbuhan awal yaitu sebesar 5 persen. Jika demikian, ada risiko target dana yang Anda kejar tidak tercapai apabila kinerja di bawah asumsi tersebut terjadi terus-menerus. Dari sini, Anda bisa menimbang langkah lanjutan supaya target dana dalam tujuan keuangan tersebut bisa Ambil KeputusanKetika asumsi awal yang Anda gunakan dalam penghitungan tujuan keuangan meleset, maka Anda memiliki beberapa opsi pasca-evaluasi. Pertama, switching atau mengalihkan investasi ke instrumen investasi lain yang mencetak kinerja lebih bagus dan sesuai dengan asumsi hitungan awal memangkas kerugian cutloss dan switching ke instrumen berbeda. Kinerja investasi Anda ternyata di bawah target. Setelah melihat tren ke depan, banyak prediksi ahli yang menyebut kondisi pasar belum akan membaik dalam jangka pendek. Hal tersebut mungkin menjadi sinyal bagi Anda untuk menempuh aksi cutloss dan mengalihkan investasi ke instrumen lain yang lebih rendah risiko sekaligus masih mampu memenuhi asumsi hitungan Anda berasumsi investasi saham C mampu tumbuh minimal 7 persen per tahun. Tapi, pada kenyataannya kinerja investasi saham C tersebut hanya sebesar 3 persen per tahun. Anda pun tak yakin kinerjanya tahun depan akan lebih jika sudah demikian, cutloss adalah yang paling mungkin dan mengalihkan investasi di instrumen lain dengan proyeksi return lebih baik. Misalnya, mengalihkan investasi ke instrumen berpendapatan tetap seperti Surat Berharga Negara SBN menambah modal investasi top up. Jika mendapati bahwa kinerja instrumen investasi yang dipilih ternyata di bawah asumsi awal tapi Anda optimis bahwa kinerja investasi tersebut akan berbalik tumbuh tinggi tahun depan, bisa menambah modal contoh, Anda membeli saham D seharga per saham dengan asumsi pertumbuhan 15 persen per tahun. Investasi ini ditujukan untuk dana pensiun ternyata pertumbuhan harganya setahun ini justru turun 3 persen. Dengan berbekal analisa fundamental dan proyeksi jangka panjang, Anda optimistis bahwa harga saham tersebut akan menembus tahun depan. Anda justru bisa memanfaatkan momen kejatuhan harga saham tersebut untuk membeli lebih banyak dengan harapan memperoleh keuntungan lebih optimal saat harganya menembus per bentuk investasi yang Anda pilih, pastikan lebih dahulu sesuai dengan profil risiko ya.Martina Priyanti/AM***Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini- Beli reksadana, klik tautan ini- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS DISCLAIMERInvestasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.
bagaimana menilai harga wajar dari sebuah reksadana